Kamis, 22 Maret 2012

Pendidikan di Zaman Penyebaran Islam

AA. Penyebaran Islam di Indonesia
Berbagai teori perihal masuknya Islam ke Indonesia.
1.     1.Teori Gujarat India
Islam dipercayai datang dari wilayah Gujarat (Cambay) India melalui peran para pedagang India muslim pada sekitar abad ke-13 M.
Dasar dari teori ini adalah: 
a)       kurangnya fakta yang menjelaskan peranan bangsa Arab dalam penyebaran
Islam di Indonesia
, 
b)      hubungan dagang Indonesia dengan India telah lama melalui jalur Indonesia –
Cambay – Timur Tengah – Eropa
, dan 
c)      adanya batu nisan Sultan Samudra Pasai yaitu Malik Al Saleh tahun 1297 yang
bercorak khas Gujarat.

Pendukung teori Gujarat adalah Snouck Hurgronye, WF Stutterheim dan Bernard
H.M. Vlekke. Para ahli yang mendukung teori Gujarat, lebih memusatkan perhatiannya
pada saat timbulnya kekuasaan politik Islam yaitu adanya kerajaan Samudra Pasai.
Hal ini juga bersumber dari keterangan Marcopolo dari Venesia (Italia) yang pernah
singgah di Perlak ( Perureula) tahun 1292. Ia menceritakan bahwa di Perlak sudah
banyak penduduk yang memeluk Islam dan banyak pedagang Islam dari India yang
menyebarkan ajaran Islam.
2.      2. Teori Makkah.
Teori ini merupakan teori baru yang muncul sebagai sanggahan terhadap teori lama yaitu teori Gujarat. Islam dipercaya tiba di Indonesia langsung dari Timur Tengah melalui jasa para pedagang Arab muslim sekitar abad ke-7 M.
Dasar teori ini adalah: 
a)      pada abad ke 7 yaitu tahun 674 di pantai barat Sumatera sudah terdapat
perkampungan Islam (Arab); dengan pertimbangan bahwa pedagang Arab sudah
mendirikan perkampungan di Kanton sejak abad ke-4. Hal ini juga sesuai dengan
berita Cina
, 
b)       kerajaan Samudra Pasai menganut aliran mazhab Syafi’i, dimana pengaruh
mazhab Syafi’i terbesar pada waktu itu adalah Mesir dan Mekkah. Sedangkan
Gujarat/India adalah penganut mazhab Hanafi
, dan 
c)      raja-raja Samudra Pasai menggunakan gelar Al malik, yaitu gelar tersebut berasal
dari Mesir
.
Pendukung teori Makkah ini adalah Hamka, Van Leur dan T.W. Arnold. Para ahli
yang mendukung teori ini menyatakan bahwa abad 13 sudah berdiri kekuasaan politik
Islam, jadi masuknya ke Indonesia terjadi jauh sebelumnya yaitu abad ke 7 dan yang
berperan besar terhadap proses penyebarannya adalah bangsa Arab sendiri.

3.     3.Teori Persia
 Islam tiba di Indonesia melalui peran para pedagang asal Persia yang dalam perjalanannya singgah ke Gujarat sebelum ke nusantara sekitar abad ke-13 M. Melalui Kesultanan Tidore yang juga menguasai Tanah Papua sejak abad ke-17
Dasar teori ini adalah kesamaan budaya Persia dengan budaya masyarakat Islam
Indonesia seperti:
 
a)       peringatan 10 Muharram atau Asyura atas meninggalnya Hasan dan Husein
cucu Nabi Muhammad, yang sangat di junjung oleh orang Syiah/Islam Iran. Di
Sumatra Barat peringatan tersebut disebut dengan upacara Tabuik/Tabut.
Sedangkan di pulau Jawa ditandai dengan pembuatan bubur Syuro
, 
b)       kesamaan ajaran Sufi yang dianut Syaikh Siti Jennar dengan sufi dari Iran yaitu
Al – Hallaj
, 
c)       Penggunaan istilah bahasa Iran dalam sistem mengeja huruf Arab untuk tandatanda
bunyi Harakat
, 
d)      Ditemukannya makam Maulana Malik Ibrahim tahun 1419 di Gresik, dan 
e)      Adanya perkampungan Leren/Leran di Giri daerah Gresik. Leren adalah nama
salah satu Pendukung teori ini yaitu Umar Amir Husen dan P.A. Hussein
Jayadiningrat.
 
Ketiga teori tersebut, pada dasarnya masing-masing memiliki kebenaran dan kelemahannya. Maka itu berdasarkan teori tersebut dapatlah disimpulkan bahwa Islam masuk ke Indonesia dengan jalan damai pada abad ke – 7 dan mengalami perkembangannya pada abad 13. Sebagai pemegang peranan dalam penyebaran Islam adalah bangsa Arab, bansa Persia dan Gujarat (India).
Proses penyebaran Islam di Indonesia atau proses Islamisasi tidak terlepas dari
peranan para pedagang, mubaliqh/ulama, raja, bangsawan atau para adipati.
Di pulau Jawa, peranan mubaliqh dan ulama tergabung dalam kelompok para wali
yang dikenal dengan sebutan Walisongo atau wali sembilan yang terdiri dari: 

a)      Maulana Malik Ibrahim dikenal dengan nama Syeikh Maghribi menyebarkan Islam di Jawa Timur, 
b)      Sunan Ampel dengan nama asli Raden Rahmat menyebarkan Islam di daerah Ampel Surabaya, 
c)      Sunan Bonang adalah putra Sunan Ampel memiliki nama asli Maulana Makdum Ibrahim, menyebarkan Islam di Bonang (Tuban), 
d)     Sunan Drajat juga putra dari Sunan Ampel nama aslinya adalah Syarifuddin, menyebarkan Islam di daerah Gresik/Sedayu, 
e)      Sunan Giri nama aslinya Raden Paku menyebarkan Islam di daerah Bukit Giri (Gresik), 
f)       Sunan Kudus nama aslinya Syeikh Ja’far Shodik menyebarkan ajaran Islam di daerah Kudus, 
g)      Sunan Kalijaga nama aslinya Raden Mas Syahid atau R. Setya menyebarkan ajaran Islam di daerah Demak, 
h)      Sunan Muria adalah putra Sunan Kalijaga nama aslinya Raden Umar Syaid menyebarkan islamnya di daerah Gunung Muria, dan 
i)        Sunan Gunung Jati nama aslinya Syarif Hidayatullah, menyebarkan Islam di Jawa Barat (Cirebon)

   B. Pendidikan di Zaman Penyebaran Islam
Proses penyebaran agama Islam terutama di Pulau Jawa dilakukan dengan berbagai cara, mulai dari perdagangan, pernikahan, pengobatan, budaya, maupun pendidikan. Di dalam proses penyebaran agama Islam inilah terjadi transformasi nilai nilai pendidikan Islam berikut tokoh-okoh pendidikan dan pendirian institusi pendidikannya.
Jenis pendidikan Islam di Indonesia ada 3 macam. 
1.      Pendidikan Langgar 
Hampir setiap desa di Pulau Jawa terdapat tempat peribadahan. Di tempat tersebut, umat Islam dapat melakukan ibadahnya sesuai dengan agamanya. Tempat tersebut dikelola seorang petugas yang disebut Amil. Petugas tersebut bertugas ganda, yaitu memimpin dan memberikan doa pada waktu hajat upacara keluarga atau desa, dan juga bertugas sebagai pendidik agama.
Apa yang diajarkan di langgar merupakan pelajaran agama dasar, mulai pelajaran dalam huruf Arab, dan menirukan/mengikuti apa yang telah dibacakan guru dari itab Al-Qur’an. Tujuan pendidikan dan pengajaran di langgar adalah murid dapat membaca dengan lebih tepat melagukan (tartil) Al Qur’an.
Pola pengajaran dengan jalan: murid-murid diajar secara individual, yaitu menghadap para guru satu per satu. Sementara murid-murid lain yang belum dapet giliran maju menghdapa guru, duduk bersila melingkar dengn tetap berlatih melagukan ayat suci Al Qur’an. Di sini sang guru melakukan koreksi kepada bacaan murid-murid yang salah mengucapkannya. Pelajaran biasanya diberikan pada pagi hari setelah sholat subuh atau petang hari setelah sholat maghrib.
Para santri yang belajar di langgar tidak dipungut biaya sama sekali alias gratis. Setelah muridnya selesai belajar dalam arti khatam Al Qur’an, biasanyadiadakan selamatan   dengan mengundang makan teman-teman murid atau kerabat dekat, di rumah guru atau di langgar.
Hubungan antara murid dan guru pada umumnya berlangsung terus walaupun murid kemudian meneruskan pendidikan pada lembaga pendidikan yang lebih tinggi. 
2.      Pendidikan Pesantren 
Dikaitkan dengan keberadaan pesantren, khususnya di Jawa tak bisa dilepaskan dari peranan Walisongo. Dakwah Walisongo terkenal berhasil mengislamkan Jawa karena metodenya mengombinasikan aspek spiritual Islam dan mengkomodasi tradisi masyarakat setempat. Di dalam mereka menyebarkan gaga Islam tersebut, mereka mnedirikan pesantren, sebagai tempat dakwah Islam sekaligus sebagai proses belajar mengajar.
Di versi lain menyatakan bahwa pesantren memiliki hubungan historis dengan Timur Tengah. Informasi berasal dari mereka yang melakuakan ibadah haji di Mekkah dan Madinah,  K.H. Hasyim As’ari dan K.H. Wahab Hasbullah merupakan contoh bagamaimana mereka tidak sekedar melakukan ibadah haji di sana, tetapi juga menuntu ilmu.  Proses belajar mengajar pengajian serta pelaksanaan ibadah diadopsi kiai untuk mendirikan pola pendidikan serupa di Indonesia terutama Pulau Jawa.
Pesantren adalah salah satu sistem pendidikan Islam yang ada di Indonesia dengan ciri yang khas dan unik, juga dianggap sebagai sistem pendididikan paling tua di Indonesia. Dimana murid-muridnya yang belajar diasramakan yang dinamakan pondok-pondok tersebut dibiayai oleh guru yang bersangkutan ataupun atas biaya bersama dari masyarakat pemeluk agama Islam. Para santri belajar pada bilik-bilik terpisah tetapi sebagian besar waktunya digunakan untuk keluar ruangan baik untuk membersihkan ruangan maupun bercocok tanam.            
Murid-muridnya dinamakan santri, pada umumnya terdiri dari anak-anak yang lebih tua dan telah memiliki pengetahuan dasar, yang mereka peroleh dilanggar. pelajaran pertama diberikan pada pagi hari, sesudah selesai sholat subuh. Sesudah itu para santri melakukan kerja bakti bagi gurunya,Sesudah makan siang semua beristirahat, untuk kemudian dimulai lagi dengan pelajaran dan diselilingi dengan menghafal. Ba’da magrib atau ba’da isya dimulai lagi dengan pelajaran.
Mata pelajaran yang terpenting adalah : 
a)      Usuluddin ( pokok-pokok ajaran kepercayaan ), 
b)      Usul Fiqh ( alat pengali hukum dari quran dan hadits), 
c)      Fiqh (cabang dari usuluddin), dan 
d)     Ilmu arobiyah ( untuk mendalami bahasa agama ).
Besar keclnya atau dalam dangkalnya bahan studi yang diberikan pada santri tergantung pada kiai dan pondok pesantren tersebut. Ada pondok pesantren yang diikuti oleh 8 hingga 10 orang. Tetapi ada pula pesantren yang diikuti oleh ratusan murid. Luas dan sempitnya bidang studi tidak sama, tetapi semuanya telah mendapatkan pednidikan elementer pada langgar-langgar setempat. Lama berlangsungnya pendidikan di pesantren juga tidak sama. Ada yang belajar hanya satu tahun, tetapi ada pula yang belajar bertahun-tahun hingga 10 tahun.
Pendidikan dan pengajaran di langgar dan di pesantren adalah suatu sistem  yang ditemukan di Jawa. Di Sumatera, khususnya di daerah inangakbau, terdapat suatu system yang berada di antar kedua system tersebut. Pendidiakan dan pengajaran diberiakn melalui surau surau yang sebenarnya sama saja dengan langgar di pulau Jawa.
Sementara di Aceh terdapat suatu sistem yang mirip dengan surau di Sumatera Barat, dinamakan rangkang. Proses pendidikannya sama dengan proses pendidikan dan pengajaran di langgar.
Sebagai institusi sosial, pesantren telah memainkan peranan yang penting di Indonesia dan negara-negara lainnya yang penduduknya banyak memeluk agama Islam. Alumni pondok pesantren umumnya telah bertebaran di seluruh wilayah Indonesia. Beberapa alumnus pesantren juga telah berkiprah di pentas nasional, yang terkenal antara lain: 
a)               Dr. Hidayat Nurwahid (mantan Ketua MPR RI), 
b)               KH. Hasyim Muzadi (Ketua PB Nahdlatul Ulama), 
c)               Prof. Nurkholish Madjid mantan (Rektor Universitas Paramadina), 
d)              Dr. Din Syamsuddin (Sekretaris Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI). 
e)               KH. Abdurrahman Wahid, salah seorang kyai yang terkenal, adalah mantan Presiden Republik Indonesia. Beliau adalah putra KH. Wahid Hasyim, seorang kyai yang juga tokoh pergerakan kemerdekaan Indonesia dan pernah dua kali menjabat Menteri Agama di Indonesia. Sementara kakeknya adalah KH. Hasyim Asy'ari, seorang pahlawan nasional Indonesia dan pendiri Nahdlatul Ulama, salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia. 
3.      Pendidikan Madrasah 
Kata “madrasah” dalam bahasa Arab adalah bentuk kata “keterangan tempat” (zharaf makan) dari akar kata “darasa“. Secara harfiah “madrasah” diartikan sebagai “tempat belajar para pelajar”, atau “tempat untuk memberikan pelajaran”. Dari akar kata “darasa” juga bisa diturunkan kata “midras” yang mempunyai arti “buku yang dipelajari” atau “tempat belajar.
Kata “madrasah” juga ditemukan dalam bahasa Hebrew atau Aramy, dari akar kata yang sama yaitu “darasa”, yang berarti “membaca dan belajar” atau “tempat duduk untuk belajar”. Dari kedua bahasa tersebut, kata “madrasah” mempunyai arti yang sama: “tempat belajar”. Jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, kata “madrasah” memiliki arti “sekolah” kendati pada mulanya kata “sekolah” itu sendiri bukan berasal dari bahasa Indonesia, melainkan dari bahasa asing, yaitu school atau scola.
Sungguhpun secara teknis, yakni dalam proses belajar-mengajarnya secara formal, madrasah tidak berbeda dengan sekolah, namun di Indonesia madrasah tidak lantas dipahami sebagai sekolah, melainkan diberi konotasi yang lebih spesifik lagi, yakni “sekolah agama”, tempat di mana anak-anak didik memperoleh pembelajaran hal-ihwal atau seluk-beluk agama dan keagamaan (dalam hal ini agama Islam).
Dalam prakteknya memang ada madrasah yang di samping mengajarkan ilmu-ilmu keagamaan (al-’ulum al-diniyyah), juga mengajarkan ilmu-ilmu yang diajarkan di sekolah-sekolah umum. Selain itu ada madrasah yang hanya mengkhususkan diri pada pelajaran ilmu-ilmu agama, yang biasa disebut madrasah diniyyah. Kenyataan bahwa kata “madrasah” berasal dari bahasa Arab, dan tidak diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, menyebabkan masyarakat lebih memahami “madrasah” sebagai lembaga pendidikan Islam, yakni “tempat untuk belajar agama” atau “tempat untuk memberikan pelajaran agama dan keagamaan”.
Para ahli sejarah pendidikan seperti A.L.Tibawi dan Mehdi Nakosteen, mengatakan bahwa madrasah (bahasa Arab) merujuk pada lembaga pendidikan tinggi yang luas di dunia Islam (klasik) pra-modern. Artinya, secara istilah madrasah di masa klasik Islam tidak sama terminologinya dengan madrasah dalam pengertian bahasa Indonesia. Para peneliti sejarah pendidikan Islam menulis kata tersebut secara bervariasi misalnya, schule Nakosteen menerjemahkan madrasah dengan kata university (universitas). la juga menjelaskan bahwa madrasah-madrasah di masa klasik Islam itu didirikan oleh para penguasa Islam ketika itu untuk membebaskan masjid dari beban-beban pendidikan sekuler-sektarian. Sebab sebelum ada madrasah, masjid ketika itu memang telah digunakan sebagai lembaga pendidikan umum. Tujuan pendidikan menghendaki adanya aktivitas sehingga menimbulkan hiruk-pikuk, sementara beribadat di dalam masjid menghendaki ketenangan dan kekhusukan beribadah. Itulah sebabnya, kata Nakosteen, pertentangan antara tujuan pendidikan dan tujuan agama di dalam masjid hampir-hampir tidak dapat diperoleh titik temu. Maka dicarilah lembaga pendidikan alternatif untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan pendidikan umum, dengan tetap berpijak pada motif keagamaan. Lembaga itu ialah madrasah.


*iseng posting, kalo ada yang butuh*

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar